News Update

Sejarah Jumat Agung: Makna Penyaliban Yesus dalam Iman Kristen

Sejarah Jumat Agung
Sejarah Jumat Agung

Sejarah Jumat Agung memperingati penyaliban dan wafat Yesus Kristus, mengungkap makna pengorbanan, kasih Allah, dan penebusan dosa dalam iman Kristen.

Sejarah Jumat Agung merupakan bagian penting dalam kalender liturgi Kristen yang memperingati hari penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di kayu salib. Jumat Agung diperingati pada hari Jumat sebelum Paskah dan menjadi momen refleksi mendalam atas penderitaan, pengorbanan, dan kasih Allah bagi umat manusia.

Peristiwa Jumat Agung berakar pada kisah Injil dalam Perjanjian Baru, yang mencatat bahwa Yesus disalibkan di Golgota pada masa pemerintahan Pontius Pilatus, sekitar abad pertama Masehi. Penyaliban ini bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi menjadi inti dari iman Kristen tentang penebusan dosa.

Latar Belakang Sejarah Jumat Agung

Dalam konteks sejarah Romawi, penyaliban merupakan hukuman paling kejam yang diperuntukkan bagi penjahat berat dan pemberontak. Yesus ditangkap setelah Perjamuan Terakhir, diadili oleh Mahkamah Agama Yahudi, lalu diserahkan kepada pemerintah Romawi. Meskipun tidak ditemukan kesalahan yang layak dihukum mati, tekanan massa membuat Pontius Pilatus menjatuhkan hukuman salib kepada Yesus.

Peristiwa ini menunjukkan ketidakadilan manusia, tetapi dalam pandangan iman Kristen, salib justru menjadi alat keselamatan yang telah direncanakan Allah sejak semula.

Makna Teologis Jumat Agung

Secara teologis, Jumat Agung melambangkan pengorbanan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menanggung dosa manusia. Salib yang awalnya menjadi simbol kehinaan berubah menjadi lambang kasih dan kemenangan rohani. Kematian Yesus dipahami sebagai penebusan yang memulihkan hubungan antara manusia dan Allah.

Istilah “Agung” dalam Jumat Agung tidak merujuk pada suasana sukacita, melainkan pada keagungan kasih dan pengorbanan Kristus. Dari sudut pandang iman, hari ini disebut agung karena melalui penderitaan Yesus, keselamatan dianugerahkan kepada dunia.

Perkembangan Peringatan Jumat Agung

Peringatan Jumat Agung telah dilakukan sejak gereja mula-mula. Pada abad-abad awal Kekristenan, umat Kristen berkumpul untuk berdoa, berpuasa, dan merenungkan kisah sengsara Yesus. Tradisi ini terus berkembang seiring waktu dan menjadi bagian penting dari Pekan Suci.

Di berbagai denominasi Kristen, Jumat Agung dirayakan dengan ibadah khusus, pembacaan kisah penyaliban, nyanyian rohani bernuansa duka, serta keheningan. Beberapa gereja juga melakukan jalan salib atau drama penyaliban untuk membantu umat memahami penderitaan Kristus secara lebih mendalam.

Relevansi Jumat Agung bagi Orang Percaya

Sejarah Jumat Agung tidak hanya mengingatkan umat pada peristiwa masa lalu, tetapi juga mengajak untuk merenungkan makna salib dalam kehidupan saat ini. Salib menjadi panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati, kasih, pengampunan, dan ketaatan kepada Allah.

Bagi orang percaya, Jumat Agung adalah waktu untuk introspeksi diri, mengakui dosa, dan memperbarui komitmen iman. Penderitaan Kristus mengingatkan bahwa kasih sejati sering kali menuntut pengorbanan.

Penutup

Sejarah Jumat Agung adalah kisah tentang penderitaan yang melahirkan pengharapan. Melalui penyaliban Yesus Kristus, dunia menerima anugerah keselamatan yang tak ternilai. Jumat Agung mengajak setiap orang percaya untuk tidak hanya mengenang salib, tetapi juga menghidupi maknanya dalam kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya bersukacita dalam kebangkitan pada Hari Raya Paskah.


Exit mobile version